Sunday, July 10, 2011

Inilah 7 Importir Film di Indonesia

Sudah hampir mendekati 6 bulan, film hollywood belum nongol juga di Cinema/Bioskop Indonesia. Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa distributor film lokal alias para importir ini pada dasarnya adalah bisnis yang berbeda sama sekali dengan bioskop. Jadi bioskop tidak mengimport film. Mereka cuma memutarkan film-film yang diimport oleh para importir. Tapi kita akan bahas tentang ini lebih lanjut nanti.

Di Indonesia ada 7 distributor film, yaitu:

1. PT Camila Internusa Film
Salah satu distributor tertua di Indonesia. Ngedatengin film-film Hollywood keluaran Sony/Columbia, Universal, dan Paramount
2. PT Satrya Perkasa Esthetika Film
Distributor film Hollywood juga. Ngedatengin film keluaran 20th Century Fox, Disney, dan Warner Bros
3. PT Amero Mitra Film
Distributor film Hollywood juga, tapi bukan dari studio yang big six, melainkan yang kecil-kecil aja, kayak The Weinstein Company, Lionsgate, Screen Gems, Summit, dan CBS.
4. Jive Entertainment
Kebanyakan ngedatengin film-film non Hollywood, seperti misalnya film-film dari Thailand, Perancis, Norwegia, dan lain-lain
5. PT Parkit Film
Kebanyakan mendatangkan film dari Bollywood dan beberapa film keluaran studio indie Hollywood.
6. PT Teguh Bakti Mandiri
Yang satu ini katanya spesialisasinya di film-film mandarin.
7. PT Rapi Films
Yang satu ini lebih terkenal sebagai Production House yang bikin banyak sinetron dan film bioskop, tapi ternyata mereka juga mengimport beberapa film barat.

Nah, yang disebut sebagai Studio Big Six Hollywood adalah Sony/Columbia, Universal, Paramount, Disney, 20th Century Fox, dan Warner Bros. Kenapa mereka yang big six? Ya kita bisa liat aja film-film blockbuster. Semuanya pasti keluaran salah satu dari studio ini. Dan seperti yang sudah kita sadari, Big Six Studio ini distribusinya dipegang oleh dua distributor, yaitu PT. Camila Internusa Film dan PT Satrya Perkasa Esthetika Film.


Sudah mulai bisa merasakan masalahnya?

Yang terjadi adalah 3 distributor terbesar Indonesia yang mendatangkan film-film Hollywood (Camilla, Satrya, dan Amero) tersandung masalah pajak. Amero katanya sudah bayar, makanya kamu bisa liat film-film Hollywood dari studio kecil mulai bisa tayang lagi (Source Code, Limitless, Rabbit Hole).

Problemnya, dua distributor yang megang 6 studio besar tetep ini belum bayar pajak.

Jadi kenapa mereka gak bayar pajak?
“Kenapa mereka gak bayar pajak ya?”

Kalo versi mereka sih karena katanya ada perubahan peraturan dari dirjen pajak mengenai masalah pajak film ini. Kenyataannya? Kalo sumber kita yang satu ini bisa dipercaya, sebenernya gak ada kenaikan apa-apa sama sekali. Semuanya masih dalam kesepakatan awal. Problemnya, sejak tahun 1995 para distributor film ini tidak membayar pajak film lagi.

Jadi gampangnya gini, mereka gak bayar pajak dari tahun 1995 dan sekarang, 16 tahun kemudian, semua pajak yang mereka tunggak itu ditagih. Salah siapa? Ya salah semua. Salahnya distributor, kalo emang dari dulu peraturan itu ada, kenapa gak dibayar? Salahnya bagian pajak, kalo emang pajaknya harus ada, kenapa dari dulu gak ditagih? Ada yang bilang sih ini ada hubungannya dengan hubungan grup bioskop 21 dengan pemerintahan orba. Tapi itu katanya lho. Kita sih gak tau. Ternyata merupakan sebuah rahasia umum bahwa 3 distributor terbesar di Indonesia itu adalah related party-nya 21 grup. Jadi intinya mereka memonopoli film-film yang beredar di Indonesia. Makanya dulu banyak bioskop yang pada akhirnya tutup atau bergabung ke grup 21: karena mereka gak dapet pasokan film. Seperti yang kamu mungkin sudah tau, bioskop gak ada gunanya kalo gak ada film.

Nah, maka dari itulah kenapa seharusnya distributor film dan bioskop itu gak boleh dari satu pihak yang sama. Itu akan menyebabkan monopoli dagang. Ya sekarang logika aja, kalo kamu punya film yang kamu tau bakal laku, ngapain dibagi-bagi ke bioskop lain? Puter aja di bioskop sendiri biar keuntungan dari film itu.

Memangnya buka bioskop murah? Butuh modal super besar, kalau gak punya modal besar, ya mending bergabung dengan mereka yang punya modal.

Loh, tapi bukannya Blitzmegaplex juga punya Jive Entertainment yang kerjanya juga import film? Bener, tapi kenyataannya kan orang-orang lebih prefer nonton Transformers dibanding Alpha and Omega kan? Pasti sebagian besar dari kamu juga gak tau Alpha and Omega film apaan. Makanya untuk saat ini Jive masih bisa dikatakan aman: karena efeknya gak akan luas

Terus apakah mungkin ada distributor lain yang mengedarkan film-film dari studio big six Hollywood? Kalo menurut blitzmegaplex itu gak bisa, karena studio besar Hollywood itu sudah menunjuk distributor resmi mereka di Indonesia, yaitu 3 distributor yang sudah disebut di atas tadi.

Jadi skenario terbaiknya adalah: suatu hari film-film bakal masuk lagi, tapi harga tiket 21 akan naik drastis. Pada saat itu kamu tidak punya pilihan dan akan bayar-bayar aja. Terus kamu bakal protes ke pemerintah kenapa harga tiket begitu mahal, dan apapun outcome-nya, 21 menang. Mereka hidup bahagia selamanya.

1 comment:

Indra Jaya Kurniawan said...

wow infonya keren kak.. kalau ingin tahu tentang cara membuat web yuukk disini saja.. terimakasih